Benarkah Bisa Mati Syahid Karena Wabah Penyakit?

Jalanmantu - Mati Syahid adalah seorang Muslim yang talah meninggal dikarenakan berjuang di jalan Allah hingga akhir hayatnya, mati syahid bukan hanya seorang muslim meninggal didalam perang melainkan masih banyak ada 5 jenis seseorang dikatakan mati syahid, Menurut Imam An-Nawawi mengutip pandangan ulama bahwa mati syahid itu wafat/meninggal karena mengalami penderitaan dan kepedihan menahan sakit yang begitu hebat tidak tertahan sehingga mendapat derajat syahadah/mati syahid. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadits :

"Rasulullah SAW menguji sahabatnya dengan pertanyaan, Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian? Orang yang gugur di medan perang itulah syahid ya Rasulullah, jawab mereka. Kalau begitu, sedikit sekali umatku yang mati syahid. Mereka (yang lain) itu lalu siapa ya Rasul? Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah juga syahid, orang yang kena thaun (wabah) pun syahid, orang yang mati karena sakit perut juga syahid, dan orang yang tenggelam adalah syahid, jawab Nabi Muhammad SAW," (HR Muslim)

Dalam hadis dari Jabir bin Atik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menjelaskan,

"Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena thaun syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid." (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Al-Albani).

Selama ini sahabat muslim masih banyak yang mengira satu-satunya cara mendapatkan kematian secara syahid adalah dengan kondisi mati dalam peperangan. Namun ternyata ada sebab lain yang menyebabkan seorang mendapatkan pahala mati syahid, yaitu dengan musibah-musibah yang telah disebutkan dalam hadits. Mati syahid bukan hanya karena mati dalam medan perang melaikan ada beberapa sebab yang bisa dikatakan mati syahid, Sebab seorang muslim di katakan mati syahid antara lain adalah meninggal karena wabah penyakit, tenggelam, karena sakit perut, mati karena terbakar, dan terimpa benda keras.

Para ulama membagi tiga kriteria derajat syahadah atau mati syahid :

Syahid dunia dan akhirat syahid akhirat

Tidak di dunia syahid di dunia

Tidak di akhirat.

"Ulama mengatakan, mereka yang dianggap mati syahid adalah mereka yang gugur bukan di medan perang. Mereka di akhirat kelak menerima pahala sebagaimana pahala para syuhada yang gugur di medan perang. Sedangkan di dunia mereka tetap dimandikan dan dishalatkan sebagaimana penjelasan telah lalu pada bab Iman. Orang mati syahid terdiri atas tiga jenis. Pertama, syahid di dunia dan di akhirat, yaitu mereka yang gugur di medan perang. Kedua, syahid di akhirat, tidak di dunia, yaitu mereka yang disebut dalam hadits ini. Ketiga, syahid di dunia, tidak di akhirat, yaitu mereka yang gugur tetapi berbuat curang terhadap ghanimah atau gugur melarikan diri dari medan perang," (Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, [Kairo, Darul Hadits: 1422 H/2001 M] juz VII, halaman 72).

Lalu bagaimana perlakukan terhadap seorang muslim yang telah mati syahid tapi tidak gugur dimedan perang apakah tidak harus dimandikan dan tidak disholatkan? Adapun secara perlakuan terhadap jenazah, ulama membagi dua jenis mati syahid, yaitu orang yang gugur di medan perang dan orang yang meninggal bukan di medan perang. Orang yang gugur di medan perang adalah jenis syahid yang tidak dimandikan dan dishalatkan sebagaimana sahabat yang gugur di zaman Rasulullah.

Sedangkan untuk orang yang meninggal bukan mati syahid di medan perang adalah jenis mati syahid yang perlakukannya sama seperti jenazah pada umumnya, yaitu dimandikan, dikafankan, dan dishalatkan.