Hukum Mencium Suami atau Istri Saat Berpuasa

Jalanmantu - Sering sekali kita menghadapi masalah yang selalu dipertanyakan oleh muslimin atau pun muslimah adalah tentang apa hukum mencium suami atau istri saat sedang puasa menurut ajaran islam. adapun mencium pasangan suami ataupun istri saat sedang berpuasa ada beberapa pendapat dari para ulama.

Ada beberapa perbedaan ulama tentang hukum mencium istri di siang hari saat bulan Ramadhan:

Pendapat pertama

Mencium istri atau pun suami saat sedang berpuasa di perbolehkan secara mutlak. Menurut Ibnul Mundzir rahimahullah mencium suami istri yang sudah halal di perbolehkan, mengutip pendapat ini dari sahabat Umar bin Al-Khaththab, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Aisyah, Atha, Asy-Syabi, Al-Hasan, Ahmad, dan Ishaq, bahwa mereka memperbolehkan orang yang sedang berpuasa untuk mencium istri di siang hari bulan Ramadhan.

Dalil mencium suami atau istri saat berpuasa ini di antaranya adalah hadits dari ibunda Aisyah radhiyallahu anha, beliau bersabda,

"Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencium dan mencumbu (istri-istri beliau) padahal beliau sedang berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian." (HR. Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106)

Dari sahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu, beliau mengatakan,

"Aku merasa bahagia, lalu aku mencium (istriku), sementara aku dalam keadaan berpuasa. Lalu aku katakan, Wahai Rasulullah, pada hari ini aku telah melakukan suatu perkara yang besar. Saya mencium (istriku) sementara saya sedang berpuasa. Beliau berkata, Bagaimana pendapatmu apabila Engkau berkumur-kumur menggunakan air sementara Engkau sedang berpuasa?" (HR. Abu Daud no. 2385, Ad-darimi no. 1724, An-Nasai no. 3084, shahih)

Pendapat kedua.

Mencium istri atau mencium suami dalam keadaan sedang puasa ramadhan hukumnya haram secara mutlak. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Umar, Ibnu Masud, dan Malik, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Mundzir. Mereka mengatakan bahwa perbuatan mencium suami atau istri saat berpuasa akan menyebabkan batal puasa, sehingga mencium suami ataupun mencium istri saat sedang berpuasa dilarang hal ini bertujuan untuk mencegah russaknya puasa.

Pendapat ketiga.

Pendapat ini memberikan rincian. Menurut pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi'i, dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Mereka mengatakan, jika melakukan perbuatan mencium suami atau istri saat sedang berpuasa dapat membangkitkan syahwat, maka tidak diperbolehkan. Akan tetapi, apabila tidak membangkitkan syahwat itu di perbolehkan.

Dalil mencium istri atau suami saat sedang berpuasa ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu :

"Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenai cumbuan orang yang berpuasa, lalu beliau memberikan keringanan kepadanya. Dan ada orang lain datang kepada beliau dan bertanya mengenai hal yang sama, lalu beliau melarangnya. Ternyata orang yang beliau beri keringanan adalah orang yang sudah tua, sedangkan orang yang beliau larang adalah orang yang masih muda." (HR. Abu Daud no. 2387 dan Ahmad no. 24631. Al-Albani berkata, Hadits hasan shahih.)

Pendapat inilah yang merupakan pendapat paling kuat diantara 2 pendapat lainnya, yaitu membedakan antara yang berpotensi membangkitkan syahwat ataukah tidak saat mencium seorang suami saat berpuasa ataupun mencium istri saat sedang berpuasa menurut ajaran agama islam, kondisi umur pun di perhatikan dalam permasalahan ini apakah masih muda atau sudah tua. Karena usia tua pada umumnya syahwatnya sudah lebih banyak berkurang. Inilah pendapat yang juga dipilih oleh mayoritas ulama.

At-Tirmidzi rahimahullah berkata,

"Para ulama dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam berbeda pendapat tentang hukum mencium istri bagi orang yang berpuasa. Sebagian sahabat memberikan keringanan (memperbolehkan) untuk mencium istri bagi mereka yang sudah berusia tua, dan tidak memberikan keringanan kepada mereka yang masih muda karena khawatir puasanya akan rusak (batal). Adapun mencumbu istri menurut mereka itu perkaranya lebih besar (dibandingkan mencium)." (Sunan At-Tirmidzi, 1: 387)

Terdapat tiga keadaan setelah mencium suami atau pun istri saat sedang berpuasa.

Keadaan pertama

Jika mencium istri atau suami kemudian keluar air mani. Maka puasanya di anggap batal, pendapat ini berdasarkan ijma para ulama. Hal ini disebabkan keluarnya mani karena bercumbu itu sama dengan hubungan badan..

Keadaan kedua

Jika setelah mencium istri atau suami tidak keluar cairan apa pun. Maka puasanya tetap sah, dan ini pun sesuai dengan ijma para ulama. Hal ini didasari hadits dari ibunda Aisyah radhiyallahu anha dan juga sahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu.

Keadaan ketiga.

Jika setelah mencium istri atau suami yang keluar adalah madzi, dan bukan mani. Untuk kondisi seperti ini terdapat dua pendapat di kalangan ulama yaitu.

Pendapat Pertama.

Puasa tetap sah. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi'i. Mereka mengatakan bahwa hal ini dianggap sebagai keluarnya air kencing yang tidak menghasilkan keturunan (tidak seperti air mani). Sehingga jika setelah berciuman dengan istri atau suami yang keluar adalah madzi, maka puasa tidak batal.

Pendapat kedua.

Puasa menjadi batal. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad. Mereka mengatakan bahwa kondisi ini dianggapnya seperti dengan keluarnya mani, karena sama-sama keluar karena adanya syahwat.