Amplop Undangan Merupakan Hutang?

Jalanmantu.id - Sudah menjadi tradisi di Indonesia ketika ada yang melangsungkan pernikahan maka tamu undangan akan memberikan hadiah berupa amplop yang berisikan uang atau pun berupa barang lainnya kepada pengantin baru, dengan adanya tradisi memberikan amplop hajatan terkadang yang mempunyai acara atau yang mengadakan pernikahan mengembalikan hadiah yang serupa dengan jumlah yang di saat pemberi amplop itu mengadakan acara pernikahan atau acara lainnya.

Dari cerita diatas seperti seolah-olah pemberian hadiah amplop pada hajatan seseorang merupakan hutang yang harus dibayar kemudian hari, yang menjadi pertanyaan apakah pemberian amplop hajatan atau undangan merupakan hutang ?

Menurut istilah syar’i, hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang dengan tujuan terwujudnya hubungan baik dan mendapatkan pahala dari Allah tanpa adanya permintaan dan syarat. Hukumnya diperbolehkan apabila tidak ada larangan syar’i.

Disunnahkan apabila dalam rangka menyambung silaturrahim, kasih sayang dan rasa cinta. Disyariatkan apabila bertujuan untuk membalas budi dan kebaikan orang lain, dan terkadang bisa menjadi haram atau perantara menuju perkara yang haram, dan ia merupakan hadiah yang berbentuk suatu yang haram, seperti suap menyuap, dalam hadits sudah dijelaskan bahwasanya memberikan hadiah sangatlah dianjurkan, sebagai berikut:

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta.” (HR Bukhari)

Memberikan hadiah sangat dianjurkan selama memberikan hadiah untuk tujuan baik dan menjaga persaudaraan. Karena sekecil apapun hadiah bisa menjadi salah satu hal yang sangat bermanfaat, bahkan selalu diingat oleh orang-orang terdekat.

“Wahai, wanita muslimah. Janganlah kalian menganggap remeh pemberian seorang tetangga kepada tetangganya, sekalipun ujung kaki kambing”. (HR Bukhari)

Di dalam kitab I’anatuth Tholibin juz 3 hal.51, Sayyid Abu Bakar Syatho’ menjelaskan,

“Adapun ungkapan yang terdapat dalam kitab Tukhfah yaitu, pendapat yang di anggap kuat tentang hadiah perkawinan (kado atau uang) adalah sebagai hibah (pemberian), keumuman atau tradisi masyarakat yakni memberikan kado atau uang untuk di kembalikan lagi, tidak bisa mempengaruhi penamaan hibah, selagi pemberi tidak niat menghutangi dan tidak mengatakan Ambilah (umpamanya). Apabila pemberi tidak niat menghutangi dan tidak mengatakan ambilah, maka golongan Ulama memutlakkan sebagai hutang. Terjadinya Khilaf (perbedaan pendapat ulama) adalah di sebabkan tidak sama situasi dan kondisi satu masyarakat dengan masyarakat yang lainya.”

Dari penjelasan di atas sudah bisa diambil kesimpulan bahwa suatu pemberian amplop kepada yang mempunyai hajat atau acara pernikahan, sunatan dll, merupaka sebuah hadiah yang sejatinya tidak boleh untuk diambil kembali oleh pemberi amplop.

Di dalam hasyiyah Bujairomi yaitu Syarah kitab Minhaj dijelaskan, pendapat yang telah di tetapkan dari perkataan Imam Romli, Ibnu Hajar al Haitami, dan beberapa Hasyiyahnya yaitu :

Hadiah atau amplop yang di berikan saat walimah (seperti pernikahan, sunatan dan lain lain) maka bagi pemberi tidak boleh mengambilnya lagi apabila hadiah itu di berikan pada si penyelenggara walimah atau orang yang diserahi untuk menerima hadiah, kecuali memenuhi tiga syarat :

1. Saat memberi mengucapkan ambilah atau semacamnya.
2. Ada niat untuk di ambil lagi.
3. Adat di masyarakat di kembalikan lagi.

Dan ketika hadiah itu di berikan pada orang yang di hiasi atau di dandani (seperti pengantin atau orang yang di sunati) atau semacamnya atau di letakan di tempat yang telah di sediakan, maka tidak boleh di ambil lagi kecuali dengan dua syarat :

1. Mendapat izi dari penyelenggara walimah
2. Ada persyaratan untuk di ambil lagi

hal ini sebagaimana pendapat yang telah di Tahqiq oleh Syaikhina asy Syamsu Muhammad bin Salim al Hafnawi.

Dari seluruh penjelasan yang sudah disampaikan bisa disimpulkan bahwa amplop yang diberikan kepada pengantin atau yang memiliki hajat bukanlah hutang yang harus di bayarkan, amplop yang diberikan kepada pengantin atau yang mempunyai hajat merupakan hadiah yang seharusnya ikhlas diberikan tanpa harapan imbalan apapun dan tanpa berharap kembali dengan atas pemberian yang sudah diberikan.