Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih

 Jalanmantu.id - Sholat tarawih merupakan shalat yang dianjurkan untuk dilaksanakan dan hukum sholat tarawih sendiri hukumnya sunah, shalat tarawih ini biasanya dilaksanakan ketika bulan ramadhan dan dilakukan setelah sholat isya.

Dalam hadits pun Nabi Muhammad Saw bersabda :

“Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Setelah melaksanakan sholat tarawih yang khusus di bulan Ramadhan memang hukumnya sunnah. Meskipun begitu, banyak hadits yang merangkan bahwa sholat Tarawih terdapat banyak keutamaan dan keistimewaan di dalamnya.

Maka dari itu setelah sholat tarawih banyak ulama sering memanfaatkan ibadah solat tarawih ini sebagai ladang pahala termasuk membaca doa setelah sholat tarawih.

Adapaun Bacaan Doa Setelah Sholat Tarawih Latin dan Terjemahannya sebagi berikut :

Latin:
Allāhummaj‘alnā bil īmāni kāmilīn. Wa lil farāidli muaddīn. Wa lishshlāti hāfidhīn. Wa lizzakāti fā‘ilīn. Wa lima ‘indaka thālibīn. Wa li ‘afwika rājīn. Wa bil-hudā mutamassikīn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlīn. Wa fid-dunyā zāhdīn. Wa fil ‘ākhirati rāghibīn. Wa bil-qadlā’I rādlīn. Wa lin na‘mā’I syākirīn. Wa ‘alal balā’i shābirīn. Wa tahta liwā’i muhammadin shallallāhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyāmati sā’irīna wa alal haudli wāridīn. Wa ilal jannati dākhilīn. Wa minan nāri nājīn. Wa ‘alā sariirl karāmati qā’idīn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijīn. Wa min sundusin wa istabraqīn wadībājin mutalabbisīn. Wa min tha‘āmil jannati ākilīn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syāribīn. Bi akwābin wa abārīqa wa ka‘sin min ma‘īn. Ma‘al ladzīna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyīna wash shiddīqīna wasy syuhadā’i wash shālihīna wa hasuna ulā’ika rafīqan. Dālikal fadl-lu minallāhi wa kafā billāhi ‘alīman.
Allāhummaj‘alnā fī hādzihil lailatisy syahrisy syarīfail mubārakah minas su‘adā’il maqbûlīn. Wa lā taj‘alnā minal asyqiyā’il mardûdīn. Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā muhammadin wa ālihi wa shahbihi ajma‘īn. Birahmatika yā arhamar rāhimīn wal hamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Artinya:
“Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.
Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Tampak bahwa kata "kâmilîn" diambil dari bacaan pembuka doa ini yang memohon agar terbentuknya pribadi-pribadi sempurna (kâmilîn) dalam hal keimanan. Substansi doa ini cukup komplet, meliputi aspek duniawi dan ukhrawi, kenikmatan dan kesulitan, meminta kerbekahan malam mulia, diterimanya amal, dan lain sebagainya.

Doa yang hampir selalu dibaca oleh umat Islam di Tanah Air ini juga termaktub dalam kitab-kitab doa ulama Nusantara, salah satunya Majmû‘ah Maqrûât Yaumiyah wa Usbû‘iyyah karya pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban, KH Muhammad bin Abdullah Faqih (rahimahullâh). Pada lembar pengantar, sang ayah, KH Abdullah Faqih, mengatakan bahwa doa-doa dalam kitab itu merupakan hasil ijazah dari Kiai Abdul Hadi (Langitan), Kiai Ma'shum (Lasem), Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. KH Abdullah Faqih memberikan restu atau ijazah kepada siapa saja yang mengamalkan (dengan ijâzah munâwalah).

Itulah bacaan doa kamilin yang biasa dibaca setelah melaksanakan sholat tarawih di bulan ramadhan, semoga bermanfaat dan terus tingkatkan ibadah kepada Allah Swt.