Jika Ayah Kandung Tidak Mau Jadi Wali Nikah

Jalanmantu - Wali nikah secara umum diartikan sebagai orang yang berhak menikahkan anak perempuan dengan seorang laki-laki yang menjadi pilihannya. Wali nikah ada 2 macam. Wali Nasab dan Wali Hakim. Wali nasab adalah anggota keluarga laki-laki dari calon mempelai perempuan yang mempunyai hubungan darah dengan calon mempelai perempuan dari pihak ayah menurut ketentuan hukum Islam. Ada banyak yang bisa menjadi wali nikah untuk seorang anak perempuan namun ada tahapan-tahapanya dan kedudukannya berbeda-beda. Al-Buhuty - ulama madzhab Hambali - dalam ar-Raudhul Murbi’ menyebutkan urutan wali nikah sebagai berikut,

  1. Wali nikah Bapak atau yang mewakili bapak
  2. Kakek, atau yang mewakili Kakek
  3. Anak, atau yang mewakili anak
  4. Saudara sekandung, atau yang mewakilinya
  5. Saudara seayah, atau yang mewakilinya
  6. Anak saudara sekandung atau seayah (keponakan), atau yang mewakilinya
  7. Paman sekandung dari bapak, atau yang mewakilinya
  8. Paman sebapak dari bapak, atau yang mewakilinya.
  9. Sepupu (anak paman), atau yang mewakilinya
  10. Wala’ (orang yang memerdekakannya).
  11. Jika semua wali tidak ada, baru berpindah ke wali Hakim (KUA). (Ar-Raudhul Murbi’, hlm. 335 – 336)

Ada 2 sebab kenapa ayah tidak mau menjadi wali nikah? adapun sebab yang terjadi adalah sebagai berikut:

Karena tidak memungkinkan untuk jadi wali nikah, misalnya: hilang akal atau telah meninggal. Dalam kondisi ini, posisi wali nikah pertama, digantikan wali nikah bawahnya. Misalnya, ayah telah meninggal, maka hak wali nikah jatuh ke kakek. Jika kakek sudah meninggal maka hak wali nikah ke anak. Jika belum ada anak (masih gadis), maka hak wali nikah pidah ke saudara kandung, dst…

Karena tidak bersedia untuk jadi wali nikah apapun alasannya. Baik dengan alasan syar’i maupun alasan tidak syar’i.

Jika karena alasan syar’i maka keputusan wali nikah dibenarkan. Misalnya, karena calon suaminya tidak sekufu baik dalam masalah dunia terlebih agama. Atau karena calon suaminya, agamanya rusak, pengikut aliran sesat.

Jika karena alasan tidak syar’i, maka keputusan wali nikah bisa ditolak, dan boleh diajukan kepada pihak KUA. Misalnya wali nikah tidak merestui karena tidak cocok perhitungan weton, karena berjenggot, atau karena si wali membenci wanita yang mau dia nikahkan, atau membenci calon suaminya tanpa alasan yang benar. Wali nikah semacam ini disebut wali a’dhal.

Ibnu Qudamah menjelaskan,

ومعنى العضل : منع المرأة من التزويج بكفئها إذا طلبت ذلك ، ورغب كل واحد منهما في صاحبه

"Makna adhal adalah menghalangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang sekufu dengannya, sementara wanita itu menginginkannya. Dan masing-masing pasangan saling mencintai."(al-Mughi, 7/368)

Allah berfirman dalam surat Al-Bqarah : 232,

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali nikah) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (QS. al-Baqarah: 232)

Terdapat beberapa riwayat, bahwa ayat ini turun berkaitan dengan kasus sahabat Maqil bin Yasar dan saudarinya. Bahwa Maqil menikahkan saudarinya dengan seorang muslim di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga terjadi masalah suaminya menceraikannya. Sampai selesai masa iddah, sang suami tidak merujuknya. Tapi cinta bersemi kembali. Lelaki mantan suami ini datang melamar, untuk menikahi saudarinya Maqil.

يا لكع أكرمتك بها وزوجتكها، فطلقتها! والله لا ترجع إليك أبدًا، آخر ما عليك

Maqil merasa harga dirinya dilecehkan, beliau marah, hingga mengatakan, Hai bodoh, aku muliakan kamu dengan kunikahkan kamu dengan saudariku, lalu kau menceraikanya. Demi Allah, aku tidak akan mengembalikannya kepadamu selamanya. Menjauh dariku. Maqil menghalangi pernikahan antara adiknya dengan lelaki tersebut. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya di atas. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ma’qil dan membacakan ayat ini kepadanya. Ma’qil-pun meninggalkan rasa egonya dan bersedia untuk tunduk kepada aturan Allah. (HR. Bukhari 5331)

Jika ada wali nikah A’dhal, hak perwalian tidak berpindah ke wali nikah berikutya. Karena tindakan Al-Adhl adalah kedzaliman. Sementara kuasa untuk menghilangkan kedzaliman kembali kepada hakim, untuk itu ketika wali nikah melakukan adhal, atau tidak mau menikahkan dengan alasan yang tidak jelas, maka calon pengantin bisa mendatangi KUA, dan selanjutnya KUA akan melakukan beberapa tindakan:

  1. Mediasi antara calon pengantin dengan wali nikah a’dhal, agar dia bersedia menikahkannya
  2. Jika alasan wali tidak bisa diterima KUA, maka KUA akan memaksa wali nikah a’dhal untuk menikahkannya.
  3. Jika wali nikah tetap tidak bersedia menikahkannya, maka KUA yang akan memegang wewenang untuk menikahkannya.